Nasehat Ibu Untuk Putrinya Jelang Nikah


Menjelang saat-saat bersejarah bagi kehidupannya. Dukungan moril dari sang ibu sangat ia nantikan. Melihat fenomena pernikahan sekarang membuat hati kita ‘kebat-kebit’. Begitu mudahnya mereka menikah, begitu mudah juga mereka berpisah. Kesakralan pernikahan seakan telah memudar.
Zamankah yang berubah atau perilaku kita sekarang yang berubah? Bukankah baik buruknya suatu periode masa bergantung bagaimana orang-orang yang hidup di masa itu dalam mengisinya?
Hendaklah ini menjadi bahan perenungan kita sebagai orangtua dalam menyikapi dan melaksanakan nilai-nilai agama yang akan diterapkan dalam kehidupan keluarga.


Pernikahan adalah peristiwa sakral. Apalagi bagi anak perempuan yang hendak memasuki babak baru kehidupannya. Setelah menikah, ia akan menjadi tanggungjawab suami dan berlepas dari tanggungan orang tuanya.
Juga, ketaataannya bukan lagi pada orang tua, tapi sudah pada suaminya. Beruntunglah bila suaminya seorang yang saleh. Untuk itu, tugas orangtua adalah memilihkan jodoh anak-anak kita. Tentunya dengan persetujuan mereka.
“Manakala ada orang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian (untuk melamar putri kalian). Maka hendaklah nikahlah ia (dengan putrimu) jika tidak niscaya terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan besar.” (Riwayat Tirmidzi)

BEKAL ILMU
Untuk kebahagiaan, usaha kita tidak hanya berhenti dalam mencarikan jodoh. Bekal ilmu yang memadai sangat dibutuhkan putri kita dalam menapaki jalan hidupnya nanti.
Ilmu yang dimaksud adalah ilmu agama yang dengannya kita tahu apa yang diperintah-Nya dan apa yang dilarang-Nya. Apa yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW dan mana yang bukan sunnahnya.
Dengan selalu belajar, kita mengharapkan ia faham bagaimana bersikap sebagai seorang Muslimah sejati. Bagaimana ia membentengi dirinya dengan akhlak karimah, cara berpakaian Islami, pergaulan islami dan apa saja yang harus ia persiapkan untuk menjadi istri yang salehah dengan segala aturan dan pernak-perniknya. Begitupun tentang ilmu menjadi ibu yang baik bagi anak anaknya kelak, serta seluk beluk tentang kerumahtanggaan.
Ilmu yang benar akan memahamkan ia bagaimana Islam mengatur kehidupan dalam berutahtangga, supaya masing-masing tahu hak dan kewajibannya. Suami sebagai pemimpin atau imam keluarga berkewajiban menafkahi dan mendidik keluarganya agar selamat di dunia dan akhirat. Demikian juga sang istri harus paham bahwa ia menjadi mitra suami dalam rumah tangganya, menjadi ibu dan pendidik bagi anak-anaknya.
Nasehat Ibu
Kedekatan ibu dengan anak-anak tidaklah diragukan lagi, apalagi sebagai seorang anak gadis. Menjelang saat–saat bersejarah bagi kehidupannya tentu dukungan moril  dari sang ibu begitu ia nantikan. Bagi seorang ibu kebahagiaan sang anak adalah segalanya, apapun akan kita usahakan agar  ia bahagia.
Memberi nasehat semisal pengalaman kita sebagai istri yang selama ini mendampingi suami, menjadikan putri kita lebih mantap dalam mengarungi bahtera rumah tangganya. Sebagaimana ibu dari Ummu Ilyaas yang memberikan nasehat pada putrinya, ketika putrinya memasuki mahligai rumah tangga.
Mari kita simak nasehatnya. Tatkala ‘Amar, sang suami akan membawa Ummu Ilyaas maka datanglah sang ibu seraya berkata. :
“Wahai putriku, andaikan nasehat sudah tidak dibutuhkan karena kemajuan sastra tentu ibu tidak akan memberikan nasehat ini. Akan tetapi, nasehat itu dapat mengingatkan orang yang lalai dan membantu orang yang sedang sadar. Andaikata wanita tidak butuh suami  karena merasa cukup dengan kedua orangtuanya , tentu ibumu adalah orang yang merasa cukup tanpa suami. Namun kaum wanita dicipta untuk kaum laki-laki dan kaum laki-laki di cipta untuk wanita.
Wahai putriku sesungguhnya engkau telah meninggalkan rumahmu-yang disitulah engkau dilahirkan dan tumbuh- kepada seorang lelaki asing yangengkau tidak mengenalnya dan teman (hidup bar8) yang engkau tidak terbiasa dengannya. Maka jadilah engkau seorang budah wanita baginya, maka niscaya ia akan menjadi budak lelakimu. Hendaklah engkau memperhatikan dan menjaga 10 perkara untuknya, maka niscaya akan menjadi modal dan simpananmu kelak.
Adapun perkara yang pertama dan kedua adalah tunduk kepadanya dengan sifat qonaah, serta mendengar dan taat dengan baik kepadanya. Perkara yang ketiga dan keempat yaitu engkau memperhatikan pandangan dan ciumannya, maka jangan sampai matanya melihat sesuatu yang buruk dari dirimu dan jangan sampai ia mencium darimu kecuali bau yang terharum.
Adapun perkara yang kelima dan keenam adalah memperhatikan waktu tidurnya dan makannya, karena panasnya  lapar itu membakar dan kurangnya tidur menimbulkan kemarahan.
Perkara ketujuh dan kedelapan, menjaga hartanya dari perhatian terhadap kerabatnya dan anak anaknya. Dan kunci pengurusan harta adalah penempatan harta sesuai ukurannya dan kunci perhatian anak anak adalah bagusnya pengaturan.
Sedangkan perkara yang kesembilan dan kesepuluh adalah jangan sekali kali engkau membantah perintahnya dan jangan sekali kali engkau menyebarkan rahasianya. Karena jika engkau menyelisihi perintahnya, maka engkau akan memanaskan dadanya, dan jika engkau menyebarkan rahasianya, engkau tidak akan aman dari penghianatannya.
Kemudian jauhilah olehmu bergembira di hadapannya saat ia bersedih dan bersedih di hadapanya saat ia sedang bergembira. Sebab sikap yang pertama merupakan kelengahan terhadap kewajiban, sedang sikap kedua termasuk pengacau. Jadilah kamu orang yang sangat menghormatinya, tentu ia akan sangat memuliakanmu. Jadilah kamu orang yang selalu sepakat dalam kebaikan dengannya tentu ia akan sangat belas kasihan dan sayiang kepadamu.
Ketahuilah, sesungguhnya kamu tidak akan sampai pada yang diinginkan hingga kamu mendahulukan keridhannya dari keridhaanmu, dan mendahulukan kesenangannya dari kesenanganmu. Baik itu dalam hal yang kamu sukai atau kamu benci dan Allah akan memberikahi dirimu.
Al Abas bin Khaalid As Sahmi berkata : “Maka kemudian Ummu Iyaas pun melahirkan ‘Amr bin Hajr punya ank Al Haarits bin ‘Amr. Yang disebut terakhir adalah kakek dari Ummul Qois, penyair dan pujangga yang tersohor.
Sungguh, ini merupakan nasihat yang menyimpan nilai-nilai mulia. Sekarang, saya persembahkan nasihat ini kepada para ibu semoga kebahagiaan dan kedamaian tercurah kepada putri-putri kita yang akan menikah. Amien….


Oleh : Sri Lestari…

disarikan : dari Majalah Suara Hidayatullah....

1 Komentar: