Standar Kesalehan Suami dan Istri


Standart kesalehan laki laki ditentukan oleh sikapnya kepada istrinya. Dan kesalehan istri diukur dari ketaatanya kepada suaminya.

Dibalik laki laki hebat ada wanita cekatan dalam mengurus rumah tangganya. Demikianlah ungkapan orang tua dahulu. Ibnu Daqiqul 'Id adalah salah satu contohnya. Dia dikenal ahli Hadits yang alim dan penceramah ulung. Majelisnya dihadiri sekitar 10.000 orang.

Mereka mendengarkan tausyiahnya dengan khusyuk. Tetapi suatu ketika terjadi sebaliknya. Tokoh publk yang arahannya menyihir pendengar itu tiba-tiba menjadi seorang khatib yang tidak mengguggah dan tidak inspiratif. Kejadian itu berlangsung pada hari raya. Mulutnya menjadi kaku dan arahan yang di sampaikan tidak sistematis.

Tentu, para hadirin penasaran. Apa yang mengubah penampilan syaikh itu. Setelah mereka silaturrahim kerumahnya, baru diketahui bahwa istri sang orator menanyakan kue hari raya sebelum berangkat khutbah. Pertanyaan istrinya itu yang mengganggu pikirannya sehingga terbawa serta di hadapan hadirin.
Dari kisah di atas dapat dipahami betapa besar peran seorang istri kepada suami. Itulah sebabnya suami jangan memandang pasangan hidupnya sekadar sebagai obyek. Tetepi istri adalah mitra perjuangan.

Melihat demikian beratnya tuas yang dipikul seorang istri, ia berhak memperoleh infaq rutin dari suami. Hak istri untuk memperoleh infaq adalah kewajiban yang harus di tunaikan oleh suami. Maka, jika istri tidak sukses berkarir di luar rumah ia tidak bersalah. Karena hal itu bukan tugas pokoknya. Tetapi jika istri kandas dalam membangun rumah menjadi surga bagi anggota keluarga, ia berdosa di hadapan Allah. SWT.

"Kaum laki-laki itu pemimpin bagi kaun wanita, karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. Maka wanita yang saleh, ialah taat keapda Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz (meninggalkan kewaiban bersuami istri, meninggalkan rumah tanpa ijin suaminya). maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Tapi jiwa mereka mentaatimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sungguh Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. An Nisa ; 34). 

Orang tua kita dahulu bilang, istir itu kudu sukses dalam melakukan fungsi kodratinya ygn tidak dapat diwakilkan. Yaitu olah-olah (terampil memasak), asah-asah (terampil mencuci peralatan masak), umbah-umbah (terampil mencuci pakaian), reresik omah (terampil membersihkan rumah), dan mlumah (tidur dalam keadaant erlentang sebagai simbol kesiapan istri dalam melayani suami.).

Bagaimana mungkin suami akan sukses dalam membangun karir, jika ketika pulang rumahnya dalam keadaan berantakan, dan tidak tertata rapi. Suasana di dalamnya bagaikan kuburan (tidak saling menyapa) atau bagaikan pasar (banyak berkomentar).


IBRAH DARI PUTRI NABI

"Fatimah anakku, maukah engkau menjadi seorang perempuan yang baik budi dan istri yang dicintai suami." tanya sang ayah yang tak lain adalah Nabi SAW. "Tentu saja ayahku yang aku sayangi."
"Tidak jauh dari urmah ini berdiam seorang perempuan yang sangat baik budi pekertinya. Namanya Muthi'ah. Temuilah dia, teladani budi pekertinya yang baik itu."

Lalu amal apakah yang dilakukan Muthi'ah sehingga Rasulullah pun memujinya sebagai perempuan teladan? Maka bergegaslah Fatimah menuju rumah Muthi'ah dengan mengajak serta Hasan, putra Fatimah yang masih kecil. begitu gembira Muthi'ah mengetahui tamunya adalah putri Rasulullah SAW.
"Sungguh bahagia sekali aku menyambut kedatanganmu Fatimah. namun maafkahlah aku sahabatku, suamiku telah beramanat, aku tidak boleh menerima tamu lelaki di rumah ini."

"Ini Hasan putraku sendiri, ia masih anak-anak." kata Fatimah sambil tersenyum.

"Namun sekali lagi maafkanlah aku, aku tank ingin mengecewakan suamiku Fatimah."
Fatimah mulai merasakan  keutamaan Muthi'ah,  Ia semakin kagum dan berhasrat menyelami lebih dalam akhlak wanita ini. Lalu diantarlah Hasan pulang dan bergegaslah ia kembali ke rumah Muthi'ah.
"Aku jadi berdebar-debar." sambut Muthi'ah. " gerangan apakah yang membuatmu begitu ingin ke rumahku, wahai putri Nabi.

"Memang benarlah , Muthi'ah ada berita gembira buatmu dan ayahku sendirilah yang menyuruhku ke sini. Ayahku mengatakan bahwa engkau adalah wanita berbudi sangat baik, karena itulah aku kesini untuk meneladanimu. wahai Muthi'ah."

Muthi'ah gembira mendengar ucapan Fatimah, namun ia masih ragu. "Engkau bercanda sahabatku? Aku ini wanita biasa yang tidak punya keistimewaan apapuns eperti yang engkau lihat sendiri.
"Aku tidak berbohong wahai Muthi'ah, karenanya ceritakan kepadaku agar aku bisa meneladaninya."
Muthi'ah terdiam, hening. Lalu tanpa sengajar Fatimah melihat sehelai kain keci. kipas dan sebilah rotan di ruangan kecil itu.

"Buat apa ketiga benda ini Muthi'ah? tanya Fatimah.
Muthi'ah tersenyum malu, Namun setelah didesak iapun bercerita. "Engkau tahu Fatimah, suamiku seorang pekerja keras dari hari ke hari. Aku sangat sayang hormat kepadanya. Begitu kulihat ia pulang kerja, cepat cepat kusambut  kedatangannya. Kubuka bajunya, kulap tubuhnya dengan kain kecil ini hingga kering keringatnya. Iapun berbaring di tempat tidur melepas lelah, lalu aku kipasi beliau hingga lelahnya hilang atau tertidur pulas."

"Sungguh lua rbiasa budi pekertimua Muthi'ah. Lalu untuk apa rotan ini?"
"Kemudian aku berpakaian semenarik mungkin untuknya. Setleah ia bangund an mandi. Kusiapkan pula makan dan minumnya untuknya. Setelah semua selesai, aku berkata kepadanya. "Oh Kakanda. Bilamana pelayananku sebagai istri dan masakanku tidak berkenan dihatimu, aku ikhlas menerima bukuman. Pukullah badanku dengan rotan ini dan sebutkanlah kesalahanku agar tidak kuulangi."
"Seringkali engkau dipukul olehnya, wahai Muthi'ah? tanya Fatimah berdebar-debar.

"Tidak pernah, Fatimah. Bukan rotan yang diambilnya, justru akulah yang di tarik dan di dekapnya penuh kemesraan. Itulah kebahagiaan kami sehari-hari."
"Jika demikian, sungguh luar biasa! benarlah kata ayahku, engkau perempuan berbudi baik." kata Fatimah terkagum kagum.

Oleh karena itu, mari kita bangun rumah tangga kita dengan meneladani kisah tersebut dengan penuh kelembutan hati.
"Sesungguhnya diantara orang orang beriman yagn paling sempurna keimanannya adlah orang yang paling baik akhlaknya dan orang yang paling lemah lembut sikapnya kepada istrinya." (Riwayat Turmudzi dai Al Hakim)

Ummu 'Aun, Ibu Rumah Tangga
www.hidayatullah.com


1 Komentar:

  1. Very interesting blog. A lot of blogs I see these days don't really provide anything that attract others, but I'm most definitely interested in this one. Just thought that I would post and let you know.

    BalasHapus